Senin, 16 Juni 2014

Kendaraan Bermotor (Juga) Sumber Bencana Asap

Mungkin kita sangat peduli bahwa membakar sampah menghasilkan asap yang berbahaya, merokok menghasilkan asap bagi perokok dan orang-orang di sekitarnya dan tentu saja amat berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan kayu sebagai bahan bakar juga akan menghasilkan asap yang sama resikonya bagi pencemaran udara. Akan tetapi kita melupakan kendaraan yang setiap hari bertambah bahkan di setiap rumah bisa memiliki lebih dari satu kendaraan padahal asap knalpot kendaraan ini adalah penyumbang devisa pencemaran tertinggi selain cerobong asap pabrik. 

Asap kendaraan yang berbahaya/www.vemale.com


Kenyataan ini amat jauh dari penilaian secara umum yang terkesan dilupakan, entah karena memang kendaraan ini sumber devisa karena pajak kendaraan yang cukup tinggi intensitasnya, atau karena perjanjian kerjasama antara pemerintah dan pihak eksportir kendaraan yang tentu saja akan memberikan lebih banyak keuntungan secara finansial namun tidak memperhatikan begitu sumpek dan pengapnya udara di ibukota. Akibatnya asap kendaraan yang mengandung karbon monoksida di mana zat ini merupakan gas beracun bagi penghisapnya yang setiap hari harus kita temukan.

Apakah yang dihasilkan dari kendaraan bermotor?

Kendaran bermotor baik sepeda motor maupun mobil dan semua kendaraan menggunakan mesin, hakekatnya mereka mengeluarkan gas buang. Gas buang ini jika terlalu banyak menyembur berbentuk asap. Asap tersebut disebabkan karena pembakaran yang tidak sempurna dalam kendaraan. Meskipun kendaraan saat ini sudah dianggap aman, faktanya tingkat polusi di kota-kota besar didominasi oleh asap kendaraan bermotor.
Selain karena asap kendaraan menimbulkan pemanasan global, gas buangan kendaraan bermotor mengandung zat-zat yang beracun. Hal inilah yang membuat udara di perkotaan sangatlah kotor dan membuat sesak napas. Nah, apa sajakah yang dikeluarkan oleh asap kendaraan bermotor? Langsung saja kita simak yang pertama:
  1. Nitrogen (N | tidak berbahaya bagi kesehatan)
  2. Karbon dioksida (CO2 | tidak berbahaya bagi kesehatan)
  3. Uap air (H2O | tidak berbahaya bagi kesehatan)
  4. Karbon monoksida (CO | berbahaya bagi kesehatan)
  5. Nitrogen Oksida (NOx | berbahaya bagi kesehatan)
  6. Sulfur Oksida (SOx | berbahaya bagi kesehatan)
  7. Timbal (Pb | berbahaya bagi kesehatan)
  8. Belerang Oksida (SOx | berbahaya bagi kesehatan)
  9. Asbes (berbahaya bagi kesehatan)
  10. Dan berbagai macam logam berat yang berbahaya bagi kesehatan seperti kadmium, arsenik, mangan, nikel, dan zink.
Gas tersebut diakibatkan oleh pembakaran tidak sempurna. Jika terlalu sering dihirup, asap kendaraan dapat menimbulkan gangguan sistem pernapasan dan berujung pada kanker paru-paru.

Akan tetapi memang kebijakan masuknya kendaraan ke dalam negeri tentu saja akan sejalan dengan besarnya permintaan konsumen dalam negeri. Di mana kita dapat melihat diagram pertumbuhan kendaraan bermotor setiap tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Meskipun menurut pemerintah hal itu menunjukkan bahwa rakyat Indonesia mulai sejahtera karena bisa membeli kendaraan bermotor meski dengan cara kredit sekalipun.

Namun berbeda dengan negara eropa, contohnya Belanda, ketika kita menyaksikan kebijakan negara tersebut memang sangat membatasi kendaraan bermotor dengan alasan mengurangi pencemaran udara, dan akibatnya, udara yang bersih dan suasana yang nyaman karena sedikitnya asap di udara menjadikan kualitas hidup mereka menjadi lebih baik.

Memang, adapula produsen kendaraan bermotor berdalih mereka dapat mengurangi emisi asap dengan tekhnologi yang canggih. Akan tetapi faktanya tingkat pencemaran udara justru semakin hari semakin meningkat. Tidak saja pemborosan bahan bakar, pencemaran sisa-sisa kendaraan seperti minyak pelumas bekas yang jika dibiarkan semakin lama semakin mematikan ekosistem di negara ini.

Meskipun segala macam upaya untuk mengurangi pencemaran dengan program penanaman seribu pohon sekalipun, tetap akan kontradiktif dengan semakin padatnya volume asap di lingkungan kita karena kendaraan-kendaraan yang setiap hari selalu bertambah.

Lalu bagaimana semestinya pemerintah mengatasi persoalan asap kendaraan ini? 

Sudah cukup banyak penelitian dan pengujian tekhnologi untuk mengurangi polusi asap, misalnya dengan menghasilkan kendaraan-kendaraan yang minim emisi, dan penanaman sejuta pohon, akan tetapi upaya ini akan menjadi sia-sia manakala arus kendaraan yang masuk tidak dibatasi, padahal kondisi ini semakin lama semakin memperparah kondisi kebersihan udara, oleh karena itu menyiapkan kendaraan umum yang benar-benar ramah lingkungan akan sangat penting, meskipun saat ini sudah berjalan akan tetapi ternyata belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Membatasi kendaraan pribadi hanya bagi kepentingan yang penting, misalnya jika satu keluarga bekerja dengan jarak yang cukup jauh mungkin memerlukan satu mobil karena di dalamnya dapat menampung semua anggota keluarga sekaligus. Meski mobilitas mereka terganjal kemacetan yang parah di jalan raya. Namun demikian masalah kemacetan ini lambat laun akan teratasi jika kendaraan dikurangi.

Melarang penggunaan kendaraan pribadi ketika bekerja di tempat yang tidak terlalu jauh, hal ini akan dapat mengurangi penggunaan bahan bakar dan emisi kendaraan selain itu juga sangat menyehatkan.
Para birokrat dan pejabat memberikan contoh bagaimana berpola hidup yang elegan dan sederhana dengan memilih bersepeda ria atau berkendaraan umum dari pada memperbanyak kendaraan di rumah padahal kendaraan tersebut tidak terlalu penting untuk mobilitas.

Andaikan saja mobilitas tidak dapat dijangkau dengan sepeda maka kendaraan berenergi listrik harus semakin digalakkan penggunaannya. Tapi lagi-lagi masalah energi listrik pun menjadi masalah baru. Lalu, kira-kira sampai kapan Indonesia bebas bencana asap? Lihat saja nanti.

Salam

Sabtu, 14 Juni 2014

Kasus Pembakaran Hutan di Riau adalah Persoalan Akut



Metro, 16 March 2014 | 01:07 

Tulisan ini sebuah catatan perjalanan kami tahun 2000, tatkala kami masih menempuh pendidikan strata satu di STAIN Metro, dan kebetulan mendapatkan mandat dari PMII Cab. Metro salah satu organisasi kemahasiswaan.

Tujuannya adalah untuk mengikuti pelatihan advokasi lingkungan. Kebetulan diadakan di sebuah gedung di Kota Pekanbaru. Kota yang menurut kami cukup panas karena sudah sangat minimnya tanaman rindang yang menghiasi setiap sudut kota.

Kebetulan kami berdua yang mendapatkan mandat, dengan ongkos yang teramat sedikit kami beranikan diri untuk “nekad” naik bus menuju ke tempat tujuan. Meski baru kali pertama kami mengenal Provinsi Riau dari dekat. Namun, karena alamat tujuan dan sarana transportasi tersedia, maka tak menjadikan kesulitan berarti bagi kami. Meskipun kota tersebut baru kami kenali dari peta dan siaran televisi saja… terkesan ndusun ya?. Ah nggak masalah karena bagi kami pernah ataupun tidak bukanlah persoalan yang penting tujuannya baik dan tentu saja karena materi ilmunya yang sangat bermanfaat.

Dan alhamdulillah, kami bisa menemukan bus yang kami maksudkan, dengan bus Handoyo kami terpaksa berdiri sampai ke tempat tujuan. Persoalannya karena bus tersebutlah satu-satunya yang terakhir dapat kami temukan sebelum pembukaan acara dimulai. Bukan kami tak mau membayar alias gratis, tetapi karena tempat duduk sudah full jadi kami terpaksa berdiri meski lutut terasa nyeri yang penting bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Di sepanjang jalan kami merasakan keindahan yang tak terkira tatkala perjalan tersebut masih melewati seputaran Kota Palembang, Sumatera Selatan. Tentu saja karena gugusan perbukitan yang membentang membentuk panorama yang indah. Pepohonan masih terawat sehingga terlihat asri. Jalan yang berliku-liku di bawahnya jurang terjal menambah suasana menegangkan dan memacu adrenalin kami.

Penampakan alam terlihat berbeda tatkala kami memasuki wilayah Provinsi Riau. Di sepanjang jalan, kami melewati kawasan hutan yang sudah terbakar. Bahkan ada di antara area yang terbakar asap-asap putih masih mengepul. Dan beberapa kilometer dari lahan terbakar tersebut, sudah tumbuh deretan tanaman karet yang masih berumur beberapa bulan saja. Sontak saja kami terkejut dan keheranan sekaligus gundah gulana.

Keheranan dan kegundahan kami tak sampai di situ, karena kami mendapati banyak hutan yang sudah menggundul membentang sepanjang penglihatan kami. Sungguh ironis, menyedihkan dan miris saya melihatnya. Bahkan saya merasa bersedih tatkala pola masyarakat Provinsi Riau dan perusahaan perkebunan begitu mudahnya melakukan perusakan tanpa mendapatkan sanksi dari pemerintah daerah. Saya pun sedikit menduga, boleh jadi karena ada kongkalikong antara pengusaha dan pejabat daerah.

Kongkalikong tersebut begitu kentara, karena di sepanjang perjalanan kami melintasi area hutan ternyata hutan-hutan di sana habis dibabat dan dipersiapkan menjadi lahan perkebunan. Tak hanya perusahaan besar, sebagian masyarakatnya pun tak kalah gesitnya tatkala membakar lahan-lahan mereka untuk ditanami. Bahkan mungkin pembakaran hutan dan lahan perkebunan sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun. Dan sayangnya tidak ada sedikitpun gerak pemerintah daerah atau pusat dalam mencegah pembakaran hutan. Andaikan ada pelarangan hutan, belum ada satupun pengusaha yang tertangkap akibat ulah mereka.

Imbas dari kenakalan petani dan pengusaha perkebunan adalah yang saat ini dirasakan masyarakat Provinsi Riau. Boleh jadi sebelum adanya bencana asap ini, penduduk dan pemerintah daerah kurang responsif terhadap prilaku illegal loging dan pembakaran hutan. Sehingga dampaknya tentu saja kabut asap yang dianggap bencana nasional hakekatnya akibat dari prilaku masyarakatnya yang tidak peduli dan terkesan membiarkan perusakan hutan terjadi secara sistematis.

Melihat proses perusakan yang sistematis tersebut, PB PMII dan difasilitasi dan dilaksanakan oleh PC PMII Riau mengadakan pelatihan advokasi lingkungan. Tujuannya adalah memberikan pelatihan kepada mahasiswa terkait teknis melakukan gugatan secara pidana atas perusakan hutan yang dilakukan oleh masyarakat dan pengusaha perkebunan.

Sayang sekali meskipun catatan kecil ini adalah reportase faktual, kami tidak dapat menayangkan 
bukti kongkrit karena belum memiliki HP berkamera maupun kamera khusus ketika kami melaksanakakn tugas organisasi.

Salam.