Tampilkan postingan dengan label green. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label green. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juni 2014

Bagaimana Mengelola Sampah?



Di sana-sini, baik di pusat keramaian maupun di jalan-jalan sepi sekalipun masih ada saja sampah yang bertebaran, tidak saja ulah penduduk setempat yang sudah terbiasa membuang sampah akan tetapi ada juga pemudik dari luar kota yang dengan seenaknya membuang sampah. Kejadian ini sudah menjadi pemandangan yang amat umum di seantero wilayah negara kita, bahkan jika mau menelusuri sampai ke pusat pemerintahan sekalipun persoalan sampah masih saja merepotkan.

Kenapa sampah begitu sangat menyiksa, padahal kita tahu semua orang pastilah menghasilkan sampah baik sampah organik maupun sampah non organik yang tentu saja setiap hari akan keluar dari rumah kita. Selain itu memang budaya orang Indonesia suka membuang-buang sesuatu yang semestinya bisa dimanfaatkan. Tapi memang kebiasaan ini sepertinya sudah turun temurun. Tidak saja masyarakat tak terpelajar masyarakat berpendidikan tinggi juga masih suka membuat sampah.

Jika kita menengok persoalan sampah di sekitar kita-tidak perlu jauh-jauh mengamati sampah di Ibukota-di tempat kita sendiri yang notabene adalah kawasan kota kecil bahkan perkampungan seakan-akan sampah ini banyak menghabiskan biaya negara akan tetapi tidak kunjung diselesaikan.

Jaman dahulu, sebelum adanya aturan tentang peringatan mengenai global warming bahwa kita dilarang membakar sampah dengan alasan asap akan mencemari udara tapi mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat seakan-akan membakar sampah adalah hal biasa. Di mana pun perkampungan ada saja lubang sampah di dekat rumah dengan tujuan mengumpulkan sampah kemudian dibakar agar sampah tidak menumpuk, tapi ternyata cara ini tempo dulu masih efektif karena memang tidak ada lagi sampah yang menumpuk seperti sekarang seakan-akan sampah seperti gunung yang siap meledak karena tidak pernah dijamah dan dimanfatkan secara profesional.

Jika melihat fenomena tersebut, mungkin ada benarnya membakar sampah; jika sampah itu di wilayah yang masih amat jarang penduduknya (diperkampungan) karena memang alat untuk mengolah sampah khususnya non organik belum tersedia jadi membakar sampah sangat efektif mengurangi penumpukan sampah.

Akan tetapi jika di daerah perkotaan yang notabene kepadatan penduduk amat rapat pembakaran sampah akan sangat mencemari udara di sekitarnya akan tetapi menumpuk-numpuk sampah tanpa penangannya yang benar justru akan menjadi bom waktu yang justru akan menjadi masalah yang berkepanjangan seperti timbulnya bermacam-macam penyakit, bencana longsor sampah, serta pencemaran tanah dan air akibat limbah bercampur sampah yang menumpuk.

Proses penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir sebenarnya justru tidak akan mengurangi persoalan sampah akan tetapi justru akan menambah masalah baru. Apalagi jika kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat tidak tersentuh hukum, karena jika menanti kesadaran sepertinya amat sulit mendapatkan kesadaran masyarakat akan bahaya sampah.

Lalu, bagaimana pemerintah memberikan solusi konkrit tapi murah mengingat sampah setiap hari semakin bertambah?

1. Memberikan penyuluhan yang bersifat kontinyu, tidak hanya lewat media iklan akan tetapi pada forum-forum tingkat RT sekalipun semestinya digalakkan.

2. Memberikan fasilitas kotak sampah gratis untuk tiap rumah di mana kota sampah itu sekaligus memisahkan sampah organik dan sampah non organik yang saat ini masih tersedia di lembaga-lembaga pendidikan saja tapi tidak menyentuh ke rumah-rumah penduduk.

3. Menyediakan mesin penghancur sederhana untuk jenis plastik dan kaca “contoh di Amerika” di setiap wilayah Kota / Kabupaten  yang tentu saja memang ini membutuhkan biaya yang amat mahal.

4. Memberikan training / pelatihan cara mengelola sampah menjadi benda-benda layak pakai atau layak jual seperti pembuatan kompos, dan benda-benda kreatif yang layak jual, dan ini tentu saja harus dipersiapkan pula wadah menampung hasil karya mereka. Kegiatan ini tentu saja harus mengikut sertakan mahasiswa agar mereka dapat terjun langsung mengelola masyarakat.

5.Pemerintah memiliki lembaga yang khusus membeli sampah-sampah layak beli (seperti plastik, kertas, kaleng, kaca) sehingga menjadi income bagi masyarakat sekaligus mereka akan tergerak untuk menjaga lingkungan dari sampah. Karena selama ini hanya orang-orang tertentu (pemulung) yang mau mengorek-ngorek sampah di TPA padahal kondisi sampah sudah menumpuk. Jika ada pihak suasta yang mau membeli mereka cenderung membeli dengan harga murah padahal jika dilihat barangnya semua sampah tersebut bernilai tinggi.

5. Jika kelima strategi atau cara tersebut sudah dilaksanakan tapi ternyata masih ada saja sampah yang berserakan maka undang-undang / hukum yang mengadili pembuang sampah sembarang harus segera dibuat andaikan sudah ada harus diperketat karena akibatnya masyarakat yang bandel akan tersadar bahwa apa yang mereka lakukan dengan membuang sampah adalah melanggar hukum dengan ancaman yang berat.

Dengan menggunakan strategi di atas pemerintah akan memperoleh keuntungan:

1. Sampah akan berharga sehingga tanpa dipaksapun kalau mengerti nilai jual sampah masyarakat akan selalu mengumpulkan sampah yang beserakan.

2. Pemerintah akan mampu menyediakan bahan baku produksi berasal dari sampah tanpa kesulitan melakukan impor seperti produksi piring, gelas dan semua produk dari kaca tinggal mengolah kembali sampah dari masyarakat sehingga akan lebih efektif.

3. Pemerintah akan mengurangi cost untuk pengelolaan sampah, seperti membayar tenaga kebersihan, pembelian kendaraan pengangkut sampah serta pencarian lahan untuk menumpuk sampah.

4. Meminimalisir penyakit di masyarakat karena lingkungan semakin bersih.

5. Masyarakat mendapatkan tambahan penghasilan dari hasil penjualan sampah layak jual sehingga secara tidak langsung akan mengurangi beban ekonomi masyarakat.

6. Masyarakat menjadi lebih kreatif, karena dengan bisa mengolah sampah secara langsung mendidik masyarakat untuk cerdas bagaimana mengatasi masalah sampah di sekitarnya.

Kalau upaya tersebut dilaksanakan dengan benar mudah-mudahan tidak ada alasan lagi untuk membakar sampah dan menumpuknya sampah di sekitar kita.

Salam

Ketika Bunga Alami Berubah Menjadi Plastik

Ada yang berubah di alam sekitar kita, di mana jika melakukan kunjungan ke berbagai pusat pertokoan, pasar, restoran atau hotel sekalipun banyak kita temukan bunga-bungan yang indah nan menawan akan tetapi sudah tidak alami lagi, akan tetapi sudah imitasi alias tiruan. Tiruan ini dimaksudkan karena bunga yang kita amati ternyata terbuat dari plastik, kertas dan benda-benda lainnya yang menunjukkan budaya penghijauan yang dahulu alami kini berubah menjadi tanaman-tanaman imintasi.

Perubahan model hiasan sebenarnya tidak semata-mata dapat disalahkan, karena dari segi nilai seni hal ini menunjukkan ketertarikan yang luar biasa bagi masyarakat untuk memanfaatkan benda-benda buatan menjadi bunga-bunga atau tanaman hias. Hal ini juga menunjukkan adanya tingginya kreatifitas pengusaha kerajinan bunga dalam membuat model tanaman hias.

Sebagaimana dalam konsep penghijauan semestinya kita cenderung mau menanam tanaman alami yang tentu saja tidak saja indah akan tetapi juga bermanfaat menghasilkan oksigen untuk mengatasi masalah global warming. Akan tetapi akhir-akhir ini konsep penghijauan ini sudah agak ditinggalkan justru yang muncul adalah semua tanaman yang ada dirumah berganti menjadi tanaman imitasi.

Satu kelebihan jika kita membuat tanaman hias menggunakan tanaman yang hidup, di antaranya kita selalu berusaha menjaga agar spesies tanaman tertentu tetap terjaga kelestariannya karena pada umumnya tanaman hias adalah tanaman atau bunga yang tergolong langka. Di samping itu dari segi kreativitas banyak pula tanaman hias yang berasal dari tumbuhan hidup justru menjadi icon dan ajang percontohan dalam sebuah event tanaman hias sehingga akan meningkatkan nilai dari tanaman itu sendiri dari pada menggunakan tanaman imitasi.

Selain berusaha menjaga agar tanaman tersebut tetap awet dan lestari kita juga melatih masyarakat lebih khusus anggota keluarga untuk selalu menjaga dan merawat tanaman di sekitar kita. Apalagi saat ini kondisi iklim dan cuaca di kota-kota besar mengalami  peningkatan yang cukup ekstrim dan cenderung menakutkan. Ditambah lagi, pertumbuhan penduduk, pertambahan jumlah kendaran yang setiap tahun mengalami peningkatan. 

Selain itu jika kita melihat angka kerusakan hutan sudah pada tataran di ambang batas mengkhawatirkan.  Dengan demikian prinsip satu hari satu pohon atau satu tanaman diharapkan generasi muda akan semakin mencintai lingkungan menjaganya sepanjang waktu.

Sabtu, 14 Juni 2014

Kasus Pembakaran Hutan di Riau adalah Persoalan Akut



Metro, 16 March 2014 | 01:07 

Tulisan ini sebuah catatan perjalanan kami tahun 2000, tatkala kami masih menempuh pendidikan strata satu di STAIN Metro, dan kebetulan mendapatkan mandat dari PMII Cab. Metro salah satu organisasi kemahasiswaan.

Tujuannya adalah untuk mengikuti pelatihan advokasi lingkungan. Kebetulan diadakan di sebuah gedung di Kota Pekanbaru. Kota yang menurut kami cukup panas karena sudah sangat minimnya tanaman rindang yang menghiasi setiap sudut kota.

Kebetulan kami berdua yang mendapatkan mandat, dengan ongkos yang teramat sedikit kami beranikan diri untuk “nekad” naik bus menuju ke tempat tujuan. Meski baru kali pertama kami mengenal Provinsi Riau dari dekat. Namun, karena alamat tujuan dan sarana transportasi tersedia, maka tak menjadikan kesulitan berarti bagi kami. Meskipun kota tersebut baru kami kenali dari peta dan siaran televisi saja… terkesan ndusun ya?. Ah nggak masalah karena bagi kami pernah ataupun tidak bukanlah persoalan yang penting tujuannya baik dan tentu saja karena materi ilmunya yang sangat bermanfaat.

Dan alhamdulillah, kami bisa menemukan bus yang kami maksudkan, dengan bus Handoyo kami terpaksa berdiri sampai ke tempat tujuan. Persoalannya karena bus tersebutlah satu-satunya yang terakhir dapat kami temukan sebelum pembukaan acara dimulai. Bukan kami tak mau membayar alias gratis, tetapi karena tempat duduk sudah full jadi kami terpaksa berdiri meski lutut terasa nyeri yang penting bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Di sepanjang jalan kami merasakan keindahan yang tak terkira tatkala perjalan tersebut masih melewati seputaran Kota Palembang, Sumatera Selatan. Tentu saja karena gugusan perbukitan yang membentang membentuk panorama yang indah. Pepohonan masih terawat sehingga terlihat asri. Jalan yang berliku-liku di bawahnya jurang terjal menambah suasana menegangkan dan memacu adrenalin kami.

Penampakan alam terlihat berbeda tatkala kami memasuki wilayah Provinsi Riau. Di sepanjang jalan, kami melewati kawasan hutan yang sudah terbakar. Bahkan ada di antara area yang terbakar asap-asap putih masih mengepul. Dan beberapa kilometer dari lahan terbakar tersebut, sudah tumbuh deretan tanaman karet yang masih berumur beberapa bulan saja. Sontak saja kami terkejut dan keheranan sekaligus gundah gulana.

Keheranan dan kegundahan kami tak sampai di situ, karena kami mendapati banyak hutan yang sudah menggundul membentang sepanjang penglihatan kami. Sungguh ironis, menyedihkan dan miris saya melihatnya. Bahkan saya merasa bersedih tatkala pola masyarakat Provinsi Riau dan perusahaan perkebunan begitu mudahnya melakukan perusakan tanpa mendapatkan sanksi dari pemerintah daerah. Saya pun sedikit menduga, boleh jadi karena ada kongkalikong antara pengusaha dan pejabat daerah.

Kongkalikong tersebut begitu kentara, karena di sepanjang perjalanan kami melintasi area hutan ternyata hutan-hutan di sana habis dibabat dan dipersiapkan menjadi lahan perkebunan. Tak hanya perusahaan besar, sebagian masyarakatnya pun tak kalah gesitnya tatkala membakar lahan-lahan mereka untuk ditanami. Bahkan mungkin pembakaran hutan dan lahan perkebunan sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun. Dan sayangnya tidak ada sedikitpun gerak pemerintah daerah atau pusat dalam mencegah pembakaran hutan. Andaikan ada pelarangan hutan, belum ada satupun pengusaha yang tertangkap akibat ulah mereka.

Imbas dari kenakalan petani dan pengusaha perkebunan adalah yang saat ini dirasakan masyarakat Provinsi Riau. Boleh jadi sebelum adanya bencana asap ini, penduduk dan pemerintah daerah kurang responsif terhadap prilaku illegal loging dan pembakaran hutan. Sehingga dampaknya tentu saja kabut asap yang dianggap bencana nasional hakekatnya akibat dari prilaku masyarakatnya yang tidak peduli dan terkesan membiarkan perusakan hutan terjadi secara sistematis.

Melihat proses perusakan yang sistematis tersebut, PB PMII dan difasilitasi dan dilaksanakan oleh PC PMII Riau mengadakan pelatihan advokasi lingkungan. Tujuannya adalah memberikan pelatihan kepada mahasiswa terkait teknis melakukan gugatan secara pidana atas perusakan hutan yang dilakukan oleh masyarakat dan pengusaha perkebunan.

Sayang sekali meskipun catatan kecil ini adalah reportase faktual, kami tidak dapat menayangkan 
bukti kongkrit karena belum memiliki HP berkamera maupun kamera khusus ketika kami melaksanakakn tugas organisasi.

Salam.

Pembuatan Kompos Sebagai Bagian Proses Pendidikan Kesadaran Cinta Lingkungan

kompos
 
 
 
 
Metro, 05 December 2013 | 11:11

Siapapun Anda yang saat ini hidup di daerah pedesaan tentulah tidak asing lagi dengan hewan ternak, bisa berupa sapi, kerbau, kambing, ayam dan hewan ternak lain yang menghasilkan kotoran. Tentu saja sebagai warga desa juga tidak terlalu heran dengan banyaknya kotoran yang menumpuk di sekitar kandang.

Bau yang menyengat dan tentu saja lingkungan yang kotor akibat kotoran hewan ini menjadi pemandangan yang sehari-hari kita temukan. Meskipun terkesan lumrah namun dengan adanya kotoran-kotoran yang menumpuk dan tanpa penanganan yang tepat akan dapat merusak pemandangan dan juga dapat menjadi penyebab pencemaran lingkungan. Misalnya pencemaran air akibat dari meresapnya limbah hewan ini ke dalam sumur kita. Warna air menjadi kecoklatan dan tentu saja mengandung banyak bakteri yang berbahaya. Selain pencemaran air juga dapat mencemari udara akibat bau yang menyengat dan juga asap akibat dari pembakaran yang dilakukan pada kotoran tersebut.

Hal-hal tersebut merupakan aneka dampak negatif adanya limbah hewan ternak di sekitar kita. Yang sejatinya menjadi pemandangan yang cukup mengganggu dan tentu saja berbahaya bagi kesehatan kita.

Akan tetapi, meskipun kotoran hewan ternak tersebut dapat mencemari lingkungan khususnya air sumur, namun keberadaannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Baik pupuk yang tanpa pengolahan maupun yang harus diolah menjadi pupuk kompos. Pupuk yang diperoleh dari kotoran hewan tanpa diolah disebut dengan pupuk kandang. Para petani biasanya memanfaatkannya sebagai pupuk dipekarangan, ladang maupun sawah mereka.

Sehari-hari para petani ini mengangkut kotoran hewan yang masih utuh tersebut ke area persawahan maupun perladangan. Tujuannya sebagai pengganti pupuk kimia dan tentu saja bertujuan mengembalikan unsur hara dalam tanah setelah sekian lama menggunakan pupuk kimia buatan, seperti Urea, TS, KCL dan lain sebagainya.

Dengan menggunakan pupuk kandang tersebut para petani sedikit-demi sedikit mengembalikan kondisi tanah yang sempat terjadi proses pengresukan karena pupuk kimiawi dengan kandungan unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang.
Selain para petani menggunakan pupuk kandang tanpa diolah terlebih dahulu, saat ini pun sudah banyak tekhnologi pertanian yang digunakan untuk membuat pupuk kompos, dengan bahan kotoran hewan ternak yang ada di sekitar kita. Dengan cara praktis dan dan mudah para petani dapat melakukannya tanpa menggunakan cara-cara atau metode yang cukup rumit.

Menurut definisi J.H.Cwaford (2003) kompos adalah hasil dekomposisasi parsial/tidak lengkap, dipercepat secara artifisial dari campuran bahan-bahan organik oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab dan aerobik.
Proses pembuatannya tidak terlalu rumit yaitu dengan melakukan manipulasi kondisi agar mempercepat pertumbuhan mikroba yang mempermudah proses pembentukan kompos selain itu dilakukan penambahan organisme (cacing) agar proses pembuatan kompos lebih cepat dilakukan.

Tidak hanya petani yang dapat membuat pupuk kompos ini, anak-anak sekolah pun sebenarnya dapat dilatih ketrampilannya dalam menciptakan pupuk alternatif selain pupuk kimia yang dapat mereka pelajari dan mereka buat. Sebagai upaya menanamkan kesadaran akan cinta lingkungan dan tentu saja pengetahuan dan pengalaman hidup (life skill) menciptakan kreasi pupuk dari  kotoran hewan di lingkungan sekitar.

Bagi para siswa, pelatihan pembuatan pupuk kompos sejatinya juga sangat terintegrasi dengan materi pelajaran pokoknya, apalagi dalam konsep pendidikan sepanjang masa (long live education) dan pendidikan tematik, setiap materi yang diajarkan di sekolah akan sangat berkaitan satu materi dengan materi yang lain. Bahkan dengan adanya pelatihan pembuatan pupuk kompos ini sejatinya ada banyak unsur pendidikan yang dapat diperoleh. Diantaranya anak dapat mengenal hewan ternak, kotoran hewan, unsur hara, kandungan kimia, jumlah atau takaran bahan, mengenal waktu, mengenal alat-alat pertanian, dan tentu saja mengenal proses pembuatan secara menyeluruh.

Selain mengkombinasikan segenap pengetahuan, sang anak sudah diajarkan bagaimana menjaga kelangsungan makhluk hidup dan lingkungan serta bagaimana memanfaatkan potensi di lingkungan sekitar sebagai bagian perlindungan alam. Konsep go green pun sudah dilakukan. Belajar ilmu kognitif dikombinasikan dengan belajar afektif dan psikomotorik. 

Bahkan lebih dari sekedar belajar, sang anak akakn mendapatkan bekal yang cukup memadai bagaimana mereka dapat memproduksi pupuk kompos sebagai bagian mencari penghasilan.
Sehingga dengan pelatihan tersebut sejatinya para pendidik telah menanamkan konsep pendidikan secara utuh dan tidak hanya secara parsial. Diharapkan dengan pelatihan tersebut anak secara langsung melakukan proses belajar sambil melakukan dengan tindakan nyata (learning by doing atau doing by learning) melakukan sambil belajar. Sebuah proses pendidikan yang amat komprehensif dan universal.
 
Bagaimana Cara Membuat Pupuk Kompos?

Pembuatan pupuk kompos sejatinya tidaklah sulit, dan dapat dilakukan dalam bedengan yang dibuat persegi dari pasangan bata atau dalam wadah yang dibuat dari drum, namun proses pengeraman harus terjadi sehingga pertumbuhan mikroba dan bakteri dalam komposisi dapat terjadi.

Jika bedengan tidak ditemukan dapat juga dilakukan di atas tanah kering dan ditutup oleh plastik sebagai penahan panas di dalam bahan kompos, sehingga proses keluarnya panas  hasil dari proses pengeraman terjadi.

Terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat, seperti cangkul, sarung tangan, pakaian kerja dan tentu saja plastik penutup.

1. Bahan pembuatan kompos

Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan kompos lebih khusus kompos yang berbahan dasar kotoran sapi,  adalah sebagai berikut:

1.      Kotoran sapi minimal 40% dan lebih baik jika bercampur dengan urin. Karena kualitas kotoran sapi yang bercampur dengan urin lebih baik daripada yang tidak.
2.      Jika ada boleh menambahkan kotoran ayam, maksimal 25% dari komposisi yang akan dibuat.
3.      Serbuk sabuk kelapa atau dapat digantikan dengan jerami dan sampah rumah tangga, komposisinya sekitar 10%
4.      Abu dapur sekitar 10%
5.      Kapur pertanian (dolomit)  secukupnya.
6.      Stardec sekitar 0,25% (stimulan untuk pertumbuhan mikroba yaitu bahan pemicu tumbuhnya mikroba dalam campuran bahan yang akan dijadikan kompos)
Jika stardec tidak ada dapat diganti dengan kompos yang sudah jadi, sehingga mengalami proses yang sama seperti penggunaan stardec.
Setelah bahan-bahan terkumpul, proses pembuatan kompos dapat dilakukan sebagai berikut:
1.       Sehari sebelum pengomposan terlebih dahulu mencampurkan bahan utama (kotoran sapi, kotoran ayam jika ada,  sabut kelapa/serbuk gergaji, abu dapur dan kapur pertanian (dolomit) secara merata atau ditumpuk mengikuti lapisan yaitu, kotoran ayam dipaling bawah, kemudian kotoran sapi dengan ketinggian maksimul 30 cm (menyesuaikan jumlah kotoran yang tersedia).

2.       Lapisan berikutnya dari kapur pertanian (dolomit) tujuan untuk menaikkan PH pada kompos karena pada PH yang tinggi mikroba akan tumbuh dengan baik tujuannya untuk menurunkan kadar keasaman pada komposisi.

3.       Menambahkan serbuk dari sabut kelapa atau serbuk gergaji.

4.       Menaburkan abu pada bagian paling atas.

5.       Proses penumpukan dapat diulangi seterusnya di bagian atas sampai ketinggian sekitar 1,5 meter.

6.       Pada hari pertama tumpukan bahan disisir atau diaduk dengan stardec sebanyak 0,25% 
atau 2,5 kg untuk campuran sebanyak 1 ton. Dengan bahan tumpukan minimal 80 cm.

7.       Agar kompos tidak terkena panas matahari dan hujan sebaiknya dalam mengolah kompos dilakukan di sebuah bedeng yang beratap.

8.       Tumpukan dibiarkan selama satu minggu tanpa ditutup tujuannya agar suplai udara tetap terjaga dan dilakukan pembalikan pada saat ke 14, 21 dan 28 hari.

9.       Setelah di atas 28 hari, jika kompos sudah berubah warna menjadi hitam pekat, maka proses pembuatan kompos sudah berhasil.

Setelah kompos diperkirakan sudah jadi, kompospun dapat dikeduk dengan cangkul dan dimasukkan ke dalam kantung-kantung plastik dengan tujuan agar lebih mudah menyimpan dan mengangkutnya ke lahan pertanian.

Bisa juga dengan tujuan agar kompos dapat dipasarkan pada masyarakat umum sehingga dijual perkarung dengan harga disesuaikan dengan harga pasaran.

Dengan  pelatihan pembuatan pupuk kompos sejatinya kita sudah membudidayakan pupuk sehat tanpa bahan kimia yang merusak lingkungan. Tapi justru dengan keberadaan pupuk kompos tersebut akan meningkatkan kesuburan tanah setelah tanah beberapa kali ditanami. (maa)

 
Sumber tambahan:

Sri Rini Dwiari, dkk. Teknologi Pangan, Jilid 2 Untuk SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah, Jakarta, 2008

Selokan Tertimbun pun Bisa Menyebabkan Banjir

Green: 16 December 2013 | 21:34 

Banjir memang efek domino yang terjadi terkait datangnya musim hujan, tidak disangka dan diduga tiba-tiba air bah merendam semuanya. Tidak hanya jalan-jalan yang tertutup air, rumah-rumah dan fasilitas umum pun harus terendam bahkan sawah yang semestinya tinggal menunggu panen harus gagal lantaran rusak karena terendam banjir.

Bahkan yang membuat setiap orang panik karena perabot rumah tangga pun rusak. Apalagi kendaraan pribadi semua menjadi rusak karena air yang masuk ke dalam mesin kendaraan-kendaraan mereka.

Namun, hakekatnya banjir tidak datang tiba-tiba dan seketika tanpa sebab musabab yang mengawalinya. Seperti biasa banjir disebabkan karena daerah resapan yang berasal dari hutan pun harus musnah seiring habisnya pepohonan hutan lantaran penebangan yang tidak memperhitungkan dampak yang ditimbulkan. Kebiasaan masyarakat yang membuang sampah semarang, seperti dibantaran kali yang semakin mempercepat datangnya banjir. Semua kembali pada prilaku manusia sendiri yang tidak menjaga lingkungan dan alam sekitarnya dari proses perusakan lingkungan.

Bahkan jika kita mau sedikit flashback bermacam-macam musibah banjir yang menyebabkan banyak jatuh korban hakekatnya semua diawali perkara yang sama yaitu aktifitas manusia yang tidak lagi peduli akan kelestarian lingkungannya.

Namun kebiasaan kecil dan berdampak besar adalah ketika masyarakat tidak lagi peduli dengan kondisi selokan di depan rumahnya. Kebanyakan mereka berpangku tangan dan menunggu upaya pemerintah untuk membersihkan selokan yang telah tertimbun oleh sampah dan tanah. Karena sikap tak peduli inilah sejatinya banjir yang biasanya tidak terjadi malah justru malah menghampiri. Ditambah lagi memang sikap pemerintah lebih khusus Dinas PU yang terkesan membiarkan anggaran negara habis sia-sia hanya untuk memperbaiki jalan-jalan yang berlubang, meskipun demikian perbaikan jalanpun tidak sepenuhnya dikerjakan dengan baik. Adakalanya perbaikan jalan hanya menutup lobang dengan batu kemudian disiram dengan aspal lalu dibiarkan begitu saja. Pantas saja setelah diganti tidak sampai sebulan jalan itu kembali rusak.

Karena proses perbaikan jalan yang sepertinya menjadi agenda rutin proyek ini akhirnya justru sedikit melalaikan perawatan drainase, selokan sebagai tempat mengalirnya air hujan. Padahal jika pemerintah konsisten merawat drainase atau selokan dengan sepertinya banjir pun dapat dihindari ditambah lagi jalan-jalan lebih awet lantaran air tidak menggenang di sepanjang jalan, akan tetapi mengalir ke selokan di sisi-sisi jalan.

Seperti contoh betapa berharganya saluran drainase atau selokan tersebut bagi pencegahan banjir, seperti terjadinya banjir di kawasan Kab. Pringsewu sejatinya diawali oleh hilangnya fungsi drainase atau selokan tersebut. Selokan yang semestinya menjadi tempat buangan air hujan justru malah dibiarkan tertimbun tanah dan sampah. Akibatnya semestinya air dapat mengalir dengan leluasa harus terhambat oleh tanah dan sampah yang menutupi saluran air. Dan sebab ini pula yang mengakibatkan Kota Bandarlampung mengalami musibah banjir. Sebuah kelalaian yang dianggap biasa.

Kenapa saat ini drainase atau selokan justru tidak menjadi agenda utama pembangunan dan perawatan oleh dinas PU? Ditambah lagi masyarakat justru hanya menyaksikan jalan-jalan rusak dan saluran air yang tertimbun tanpa mau melakukan perbaikan secara mandiri? Hal ini sepertinya dipicu oleh sikap ketidak konsistenan pemerintah dalam memperhatikan jalan-jalan plus saluran airnya. Sehingga ketika mereka melihat kerusakan justru membiarkannya sampai musibah benar-benar datang.

Akan tetapi, yang membuat prihatin adalah sebagian masyarakat justru tidak lagi mau berswadaya, minimal bergotong-royong memperbaiki saluran air yang tertimbun tanah dan sampah. Minimal mengeruknya secara bersama-sama masyarakat di wilayah yang mengalami kerusakan. Karena mulanya tradisi masyarakat Indonesia menyukai gotong-royong dalam memperbaiki selokan yang rusak. Namun karena pergsereran budaya dan pemahaman makna swadaya sepertinya membuat masyarakat semakin acuh taka cuh, cuek dengan kondisi di sekitarnya.

Mereka selalu menunggu proyek pembangunan dan perbaikan dari pemerintah tanpa mau mengulurkan tangan bekerja sama secara gotong-royong memperbaiki sarana umum ini. Apalagi pihak kelurahan maupun kecamatan terkesan tak peduli karena beralasan sudah ada program PNPM dan program pembangunan kewenangan dinas PU atau dinas Bina Marga. Padahal PNPM dan Proyek Dinas PU tidak selalu dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di desa-desa secara menyeluruh. Sehingga sepatutnya ada kepedulian masyarakat dan pamong desa menggiatkan kembali kegiatan gotong-royong dengan program utama memperbaiki jalan yang rusak khususnya jalan-jalan yang memang belum tersentuh proyek dari dinas PU serta perawatan saluran air agar air hujan dapat bebas mengalir tanpa hambatan.

Jika kerjasama sosial dari masyarakat berupa gotong-royong memperbaiki fasiltias umum dapat dilaksanakan, maka akan dapat mengurangi faktor penyebab datangnya musibah banjir tersebut. (maa)